Ngerampek (panen) adalah kegiatan untuk memisahkan butir padi dari batangnya (jerami). Ngerampek dilakukan secara berkelompok antara 4-6 orang yang disebut “Perampek” (pelaku) yang dibayar oleh pemilik sawah. Kegiatan ini merupakan cara tradisional dalam memanen yang masih dipertahankan oleh masyarakat Lombok, meskipun alat pemanen modern sudah ada.
Baca Juga: Mengenal Baju Adat Lombok
Proses Ngerampek dimulai dengan memotong batang padi dan menumpuknya di satu tempat untuk mempermudah saat proses merampek (memisahkan butiran padi). Setelah itu, jerami ditumpuk selama sehari agar pada saat dilakukan rampek, butir padi lebih mudah dipisahkan dari batangnya. Pada malam hari, tumpukan jerami tersebut akan dipukul dengan alat rampek yang terbuat dari kayu berbentuk segitiga siku-siku.
Mepes: Tahap Akhir Panen
Mepes adalah kegiatan untuk mengambil sisa-sisa padi atau Roroq (sisa butir padi yang sudah dipisahkan dari batangnya oleh Perampek). Kegiatan Mepes biasanya dilakukan oleh ibu-ibu yang membantu dalam program pengadaan beras sebagai makanan pokok keluarga. Mepes biasanya dilakukan secara berkelompok dan memerlukan perjalanan panjang, kadang-kadang sampai puluhan kilometer.
Proses Mepes dimulai setelah Perampek melemparkan Roroq di depan Pemepes (pelaku Mepes). Sisa hasil rampekan yang merupakan produk dari Ngerampek tersebut menjadi milik Pemepes. Selanjutnya, Pemepes melakukan Mepes dengan perlahan. Alat yang digunakan untuk Mepes adalah kayu tumpul dengan panjang sekitar 50 cm yang tidak membutuhkan tenaga besar seperti yang dibutuhkan dalam proses Ngerampek.
Setelah butiran padi terkumpul, mereka akan dibersihkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk ditimbang. Karung-karung berisi padi tersebut kemudian dibawa oleh Perampek ke pinggir jalan untuk diangkut menggunakan mobil dan dijual oleh pemilik sawah. Butir padi yang didapatkan oleh Pemepes menjadi milik mereka, bukan pemilik sawah. Hal ini dianggap sebagai sedekah atau berkah dari hasil panen yang diberikan oleh pemilik sawah.
Komunitas dan Tradisi: Semangat Kebersamaan
Baik Ngerampek maupun Mepes bukan hanya sekadar proses kerja fisik, tetapi juga sarat dengan makna budaya. Kegiatan ini mempererat ikatan komunitas, dengan orang-orang dari berbagai rumah tangga bekerja bersama. Ini menjadi saat untuk berinteraksi sosial, berbagi cerita, bernyanyi, dan memperkuat hubungan antarwarga.
Tradisi Mepes dan Ngerampek juga mencerminkan kemurahan hati dan semangat gotong royong masyarakat Lombok. Butir padi yang dibiarkan untuk Pemepes dianggap sebagai bentuk sedekah, simbol niat baik, dan cara bagi pemilik sawah untuk berbagi berkah kepada orang lain. Praktik berbagi hasil panen ini melambangkan nilai kebersamaan dan saling mendukung yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat pedesaan di Lombok.
Tradisi Malam yang Magis
Baik Ngerampek maupun Mepes seringkali dilakukan pada malam hari, terutama di sawah yang diterangi oleh cahaya lampu minyak atau lampu penerangan kuat. Suasana ini menciptakan suasana unik dan hampir magis, di mana sawah seakan hidup di bawah langit yang penuh bintang. Suara ritmis para Perampek yang memukul jerami dan gerakan lembut Pemepes saat memilah butir padi menciptakan pemandangan yang tenang namun penuh semangat.
Anggota komunitas, termasuk Perampek dan Pemepes, sering membawa makanan dan minuman sendiri dari rumah—yang disebut Takilan—untuk menjaga stamina mereka sepanjang malam. Ini tidak hanya menyuplai tenaga fisik, tetapi juga menambah rasa kebersamaan dan keakraban selama proses panen.
Datang dan Saksikan Tradisi Lombok
Tradisi Ngerampek dan Mepes adalah bagian penting dari warisan budaya Lombok, dan memberikan kesempatan langka bagi para pengunjung untuk melihat cara hidup yang masih bertahan hingga saat ini. Baik Anda seorang pelancong yang tertarik dengan budaya pedesaan Lombok, pecinta kuliner yang ingin mencicipi beras lokal, atau sekadar ingin memahami lebih dalam tentang kehidupan pertanian di Lombok, tradisi ini menawarkan pengalaman yang unik dan bermakna.
Jadi, jika Anda berada di Lombok pada musim panen, pastikan untuk mengunjungi sawah-sawah dan menyaksikan tradisi Ngerampek dan Mepes secara langsung. Ini adalah pengalaman yang tidak hanya memungkinkan Anda untuk melihat kerja keras yang terlibat dalam produksi beras Lombok, tetapi juga mengajarkan Anda tentang nilai kebersamaan, rasa syukur, dan berbagi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
